KIR

Salam KIR dan Jurnalistik Satu hati, satu janji, berprestasi, sukses News?! Yaps? itulah salah satu motto pembangkit semangat menulis dan berkarya dari sobat-sobat KIR dan Juranalistik MANKESA. Meskipun dikatakan baru seumur jagung, tapi saat hasil karya dan prestasi jangan ditanya!! Mau tahu, gimana sich asal muasal berdirinya salah satu ekstra andalan di MANKESA ini???? Pada awalnya KIR dan Jurnalistik merupakan salah satu divisi yang berada di bawah naungan dan kepengurusan OSIS yaitu divisi KIR dan Jurnalistik.
Pada OSIS periode 2007/2008 Bapak Drs. Miftahudin selaku Pembina OSIS memberikan amanah kepada Ibu Dra. Siti Nuril Rowiyah selaku Pembina divisi KIR dan Jurnalistik pada masa itu untuk mulai merintis dan membina berdirinya organisasi ekstra baru yaitu KIR dan Jurnalistik. Kemudian ditunjuk kak Hanik Fitriani selaku Ketua (Pimpinan Redaksi) KIR dan Jurnalistik. Dengan dibantu oleh salah satu guru bidang study bahasa Indonesia yaitu Ibu Arie Nova Mariana, S.Pd, organisasi ini mulai dilirik oleh siswa/siswi MANKESA yang pada dasarnya memiliki jiwa menulis yang tinggi. Bahkan pada angkatan pertama ini anggota dari ekstra KIR dan Jurnalistik mencapai 50 siswa Kelas X dan XI. Tak khayal jika KIR dan Juranlistik mulai muncul sebagai organisasi yang patut untuk dipertimbangkan, karena MANKESA adalah satu-satunya MAN di MADSEL (Madiun Selatan) yang memiliki ekstra KIR dan Jurnalistik.
Organisasi ini juga mulai menghidupkan kembali Mading (majalah dinding) MANKESA yang sempat mati suri. Setelah organisasi ini benar-benar terbentuk dan diakui sebagai ekstra di MANKESA para anggotanya tidak hanya tinggal diam menunggu komando dari Pembina lho?. Bakat dan minat mereka yang kritis terhadap segala sesuatu disekitarnya semakin membuat anggota KIR dan Jurnalistik tidak sepi job alias nganggur. Berbagai aktivitas positif dan mengasah ketrampilan seolah menjadi makanan sehari-hari mereka. Mau tahu apa saja sich aktivitas mereka selama kepenguruasan????simak terus ya?!

latgab pmr

pmr merupakan salahsatu extra di MAN Kembangsawit yang berhubungan dengan sosial. PMR mempunyai banyak manfaat, diantaranya dapat membantu sesama khususnya di bidang kesehatan. Acara yang berlangsung dari pagi sampai sore telah menghipnotis seluruh peserta PMR sehingga mereka menjadi semangat dalam mengikuti latgab. banyak tantangan yang mereka lalui diantaranya SAR. SAR ini meliputi dari gorong-gorong, jalan sempit, turun tebing, naik tebing, dan sungai. Seluruh peserta berjalan dipematang sawah yang sangat panas. Dalam SAR ini setiap sekolah mempunyai pendapat dan tata cara praktik yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut,akhirnya disamakan oleh bapak PMI salh satunya bapak Pram. Kegiatan berikutnya yang dinantin-nantikan yaitu outbond. Setiap sekolah menampilkan satu permainan yang berbeda-beda. Peserta PMR sangat antusias dalam mengikuti permainan. Setelah mengikuti out bond, dilanjutkan baksos oleh sluruh panitia dan peserta

milad man kese ke 48

Tahun ini MAN Kembangsawit telah berusia empat puluh sembilan tahun. Dalam usianya yang ke empat puluh sembilan tahun ini, banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Namun demikian, MAN Kembangsawit terus berusaha untuk tetap maju selalu dekat dengan masyarakat sebagai bentuk komitmen terhadap visi dan misi madrasah. Globalisasi menuntut adanya perubahan paradigma dalam dunia pendidikan. Untuk melakukan hal tersebut, peranan manajemen pendidikan sangat signifikan untuk menciptakan sekolah bermutu. Oleh karena itu manajemen sekolah harus mengembangkan kreativitas, inovasi, dan modernisasi bagi focus pada pelanggan pendidikan. Maka yang harus diperhatikan para kepala sekolah, guru-guru dan supervisor pendidikan adalah perbaikan mutu sebagai kunci sukses pendidikan dimasa depan.

Madrasah Aliyah Negeri Kembangsawityang dari tahun ke tahun mengalami perkembnagan yang cukup menggembirakan baik dari segi fisik, sarana prasarana, mutu, jumlah tenaga pengajar maupun jumlah siswa termasuk didalamnya semakin besar animo masyarakat terhadap madrasah. Hal ini sebagai bukti bahwa MAN Kembangsawir mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain dalam beberapa hal khususnya dalam membekali siswa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai religius yang ditanamkan pada siswa, dalam rangka membentuk pribadi-pribadi yang mandiri, sehat dalam hal mental emosional, mental intelektual, mental social, serta pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Dari kenyataan tersebut timbul motivasi dari para pengelola madrasah, dalam hal ini MAN Kembangsawit untuk senantiasa berbenah diri dalam semua aspek khususnya yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan di MAN Kembangsawit sehingga tidak tertinggal dengan lembaga pendidikan yang lain, serta berusaha memenuhi harapan masyarakat tentang pendidikan yang berkualitas. Hal ini sesuai dengan Visi Madrasah, yaitu : " Berakhlak mulia, Unggul dalam prestasi dan Terampil". Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi Madrasah, mensyukuri nikmat Allah SWT. atas kelangsungan dan kemajuan MAN Kembangsawit sejak berdirinya hingga sekarang, serta lebih mengenalkan lembaga MAN Kembangsawit kepada masyarakat

Sejarah

Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut.
Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam,dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis, . Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, seperti menggunakan buku tamu dan kolom komentar yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif.
Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar berulang kali muncul untuk beberapa subyek atau sangat kontroversial terjadi dalam blogosphere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog.

[Kisah Islami] Kasih Sepanjang Jalan

Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kakc". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesalc
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama inic" bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.